GENERASI MILLENIAL
Indonesia sedang memasuki era baru demografi yang lebih dikenal sebagai era bonus demografi yang terjadi akibat perubahannya stuktur umur penduduk yang ditandai dengan menurunnya rasio perbandingan antara jumlah penduduk non produktif (usia kurang dari 15 tahun dan 65 tahun ke atas) terhadap jumlah penduduk produktif (usia 15-64 tahun) atau yang disebut sebagai rasio ketergantungan ( dependency ratio). Ini mengingat bonus demografi terjadi ketika proporsi jumlah penduduk usia produktif berada di atas 2/3 dari jumlah penduduk keseluruhan, atau dengan kata lain bonus demografi terjadi ketika rasio ketergantungan angkanya berada di bawah 50. Perubahan stuktur penduduk yang memicu terjadinya bonus demografi di Indonesia pada hakekatnya merupakan hasil penurunan fertilitas jangka panjang.
Pola menurunnya TFR dan IMR tersebut menggambarkan terjadinya transisi demografi yang secara jangka panjang berdampak pada meningkatnya jumlahpenduduk usia produktif yang tercermin dari menurunnya rasio ketergantungan. Jika dikaitkan dengan kondisi indonesia, tanda-tanda akan terjadinya bonus demografi sebenarnya sudah terlihat dari pola menurunnya rasio ketergantungan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan proyeksi data Sensus Penduduk 2010, bonus demografi diperkirakan sudah dimulai tahun 2012 yang ditunjukkan dengan rasio ketergantungan sebersar 49,6 dan namun, berdasarkan hasil proyeksi Supas 2015, periode terjadiya rasio ketergantungan terendah diperkirakan mengalami percepatan yaitu terjadi sekitar tahun 2021-2022 dengan nilai sebesar 45,4 fenomena menurunnya angka ketergantungan yang terus berlanjut hingga mencapai bonus demografi pada titik terendah secara tidak langsung akan meningkatkan suplai angkatan kerja (labor supply), tabungan (saving), dan kualitas sumber daya manusia (human capital).
Dengan kata lain, pada periode bonus demografi akan terbuka sebuah kesempatan/ jendela peluang (window of opportunity) yang dapat dimanfaatkan untuk jendela peluang ini diperkirakan akan terjadi sekitar periode tahun 2019-2024, yaitu ketika rasio ketergantungan mencapai sekitar 70 persen, sedangkan sisanya 30 persen merupakan penduduk yang tidak produktif. Dalam kaitan ini, provinsi yang telah mengalami bonus demografi umumnya berada di Jawa serta sebagian Sumatera dan Kalimantan. Secara rinci, rovinsi yang mengalami bonus demografi di tahun 2015 antara lain : DKI Jakarta, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Bali, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Banten, Kepulauan Bangka Belitung, Jambi, Bengkulu, Kalimantan Tengah, Jawa Barat, Kepulauan Riau, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, dan Lampung.Jika ditelusuri lebih lanjut dari persebaran bonus demografi menurut pulau, diperoleh gambaran bahwa Sumatera Selatan merupakan provinsi yang masa bonus demografinya berakhir pertama kali di Pulau Sumatera, yaitu tahun 2035. provinsi yang masa bonus demografinya berakhir pertama kali di Pulau Jawa, yaitu tahun 2032. pada kondisi bonus demografi, fenomena struktur penduduk sangat menguntungkan dari sisi pembangunan karena jumlah penduduk usia produktif sangat besar, sedang proporsi usia muda sudah semakin kecil dan proporsi usia lanjut belum banyak.
Menurut Gribble dan Bremner (dalam Hayes 2015), bonus demografi bisa menjadi peluang untuk mempercepat percepatan pertumbuhan ekonomi suatu negara yang diawali dari perubahan struktur demografi penduduk, dicirikan dengan menurunnya angka kelahiran dan angka kematian penduduk. Akan sangat menguntungkan memiliki penduduk yang mayoritas usia produktif untuk menunjang pertumbuhan ekonomi dan menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Tanpa di sadari, jika para generasi ini kurang ilmu pengetahuan moral dan agama, maka akan mudah terlena dan terpengaruh oleh kemajuan zaman serta perubahan-perubahan yang terjadi. Sehingga bila mereka tidak siap, maka individu dalam generasi milenial ini akan tergilas oleh zaman.
PEMBAHASAN
Frofil Generasi Millenial
Menurut data yang diyakini akurat, rasio ketergantungan Indonesia tahun 2015 sebesar 49,20 secara tidak langsung memiliki makna bahwa persentase jumlah penduduk usia produktif mencapai sekitar 67,02 persen dari jumlah penduduk keseluruhan. Selanjutnya, jika persentase jumlah penduduk usia produktif ini dikaitkan dengan persentase generasi milenial tahun 2017 yang sebesar 33,75 persen dari jumlah penduduk keseluruhan. Ini berarti bahwa sumbangan generasi milenial dalam membentuk struktur jumlah penduduk usia produktif tergolong cukup tinggi, karena sekitar 50,36 persen dari jumlah penduduk usia produktif pada dasarnya merupakan generasi milenial (asumsi : rasio ketergantungan 2015 dan 2017 sama besar). Untuk mengetahui seberapa besar potensi dan kemampuan yang dimiliki generasi milenial Indonesia sebagai bekal penggerak roda pembangunan Indonesia, berdasarkan analisis tahun 2018 tentang Profil Generasi Milenial Indonesia. Bahkan diharapkan bisa mengetahui peluang yang dapat diambil dari kemampuan atau kelebihan yang dimiliki oleh generasi milenial, sehingga akan menjadi pedoman pengambil kebijakan pemerintah dalam menentukan langkah ke depan khususnya dalam memaksimalkan potensi generasi milenial dalam menyongsong bonus demografi. Menurut Manheim generasi adalah suatu konstruksi sosial yang di dalamnya terdapat sekelompok orang yang memiliki kesamaan umur dan pengalaman historis yang sama. Individu yang menjadi bagian dari satu generasi, adalah mereka yang memiliki kesamaan tahun lahir dalam rentang waktu 20 tahun dan berada dalam dimensi sosial dan dimensi sejarah yang sama.
Definisi tersebut secara spesifik juga dikembangkan oleh Ryder (1965) yang mengatakan bahwa generasi adalah agregat dari sekelompok individu yang mengalami peristiwa peristiwa yang sama dalam kurun waktu yang sama pula Teori tentang perbedaan generasi dipopulerkan oleh Neil Howe dan William Strauss pada tahun 1991. Selanjutnya menurut menurut peneliti Kupperschmidt (2000) generasi adalah sekelompok individu yang mengidentifikasi kelompoknya berdasarkan kesamaan tahun kelahiran, umur, lokasi, dan kejadian-kejadian dalam kehidupan kelompok individu tersebut yang memiliki pengaruh signifikan dalam fase pertumbuhan mereka. Untuk mengetahui siapakah generasi milenial diperlukan kajian literatur dari berbagai sumber yang merupakan pendapat beberapa peneliti berdasarkan rentang tahun kelahiran. Pendapat lain menurut Elwood Carlson dalam bukunya yang berjudul The Lucky Few: Between the Greatest Generation and the Baby Boom (2008), generasi milenial adalah mereka yang lahir dalam rentang tahun 1983 sampai dengan 2001. Secara umum milenial adalah generasi muda yang lahir pada tahun antara tahun 1980 sampai 2000, yang lahir dimana dunia modern dan teknologi canggih telah maju.7 Putra (2016) dalam kajiannya tentang teori perbedaan generasi menyajikan pengelompokan generasi (salah satunya adalah generasi milenial) dari beberapa pendapat peneliti yang berasal dari berbagai negara Penyebutan istilah generasi milenial juga berbeda antar peneliti. Tapscott (1998) menyebut generasi milenial dengan istilah Digital Generation yang lahir antara tahun 1976-2000.
Kemudian Zemke et al (2000) menyebut generasi milenial dengan istilah Nexters yang lahir tahun 1980-1999. Terakhir Howe dan Strauss, Lancaster dan Stillman (2002), serta Martin dan Tulgan (2002) menyebut dengan istilah Generasi Milenial/ Generasi Y/Milenial yang dikenal sampai sekarang, meskipun rentang tahun kelahirannya masing-masing berbeda. Benesik, Csikos, dan Juhes (2016) mengidentifikasi generasi milenial adalah mereka yang lahir antara tahun 1980-1995. Sumber lain dari Working With Generations X And Y In Generation Z Period: Management Of Different Generations In Business Life (Sezin Baysal Berkup, Gediz University, İzmir, Turkey, 2014) menyebutkan bahwa generasi milenial atau generasi Y adalah mereka yang lahir antara tahun 1980 sampai dengan 2001. Pendapat ini mirip dengan pendapat Stafford dan Griffis (2008) yang menyatakan bahwa generasi milenial adalah populasi yang lahir antara tahun 1980 sampai dengan 2000. Sedangkan generasi milenial menurut United States Census Bureau (2015) adalah mereka yang lahir antara tahun 1982 sampai dengan 2000. Menurut Hasanuddin Ali dan Lilik Purwandi (2017) dalam bukunya Millennial Nusantara menyebutkan bahwa Generasi milenial adalah mereka yang lahir antara tahun 1981 sampai dengan tahun 2000. Sementara para peneliti sosial dalam negeri lainnya menggunakan tahun lahir mulai 1980-an sampai dengan tahun 2000-an untuk menentukan generasi milenial (Mengenal Generasi Milenial, Sindonews.com, 2015).
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli dari berbagai negara dan profesi, penentuan siapa generasi milenial dapat ditarik kesimpulan bahwa generasi milenial adalah mereka yang dilahirkan antara tahun1980 sampai dengan 2000 (Tabel 2.4). Selanjutnya konsep generasi milenial Indonesia adalah Penduduk Indonesia yang lahir antara tahun 1980-2000 dijadikan acuan untuk pengolahan data dalam pembahasan selanjutnya. Di samping generasi sebelum generasi milenial, ada generasi setelah generasi milenial disebut Generasi Z yang lahir rentang tahun 2001 sampai dengan 2010. Selanjutnya konsep generasi milenial Indonesia adalah Penduduk Indonesia yang lahir antara tahun 1980-2000 dijadikan acuan untuk pengolahan data selanjutnya. Sebelum generasi milenial ada Generasi X yang menurut pendapat para peneliti lahir pada rentang tahun 1960-1980. Sebelum generasi milenial ada Generasi X yang menurut pendapat para peneliti lahir pada rentang tahun 1960-1980. Berikutnya adalah generasi Baby Boom, yaitu generasi yang lahir pada rentang tahun 1946-1960.
Berikutnya adalah generasi Baby Boom, yaitu generasi yang lahir pada rentang tahun 1946-1960. Terakhir generasi tertua adalah yang sering disebut generasi veteran yang lahir kurang dari tahun 1946. Terakhir generasi tertua adalah yang sering disebut generasi veteran yang lahir kurang dari tahun 1946. Untuk penyajian profil Generasi Milenial pada babbab selanjutnya, pengolahan data Generasi X dan Generasi Baby Boom digabung penyajian datanya. Untuk penyajian profil Generasi Milenial pada babbab selanjutnya, pengolahan data Generasi X dan Generasi Baby Boom digabung penyajian datanya. Generasi Z ini merupakan peralihan dari Generasi Y atau generasi milenial pada saat teknologi sedang berkembang pesat. Namun sebagai catatan, generasi tersebut belum akan banyak berperan pada bonus demografi Indonesia pada 2020. Generasi ini adalah lanjutan dari generasi Z yang sudah terlahir pada saat teknologi semakin berkembang pesat. Pada saat bonus demografi berlangsung kedua generasi tersebut masih belum banyak yang terjun dalam angkatan kerja.terlahir pada saat teknologi semakin berkembang pesat. Dalam penyajian profil generasi milenial di bab-bab selanjutnya Generasi Z dan generasi Alpha ini tidak dibandingkan dengan Generasi Milenial, karena berkaitan dengan bonus demografi. Pada saat bonus demografi berlangsung kedua generasi tersebut masih belum banyak yang terjun dalam angkatan kerja.
Ciri-Ciri Generasi Millenial Dalam Kajian Teori
Pada saat bonus demografi terjadi, generasi milenial yang merupakan penduduk terbesar usia produktif memegang peranan penting. Untuk itu dalam memaksimalkan bonus demografi dapat dilakukan melalui potensi para generasi milenial tersebut. Memasuki dunia kerja, para milenials nantinya akan memiliki bermacam-macam profesi, namun secara umum generasi milenial memiliki karakteristik yang berbeda dari beberapa generasi sebelumnya (generasi X, generasi babby boom, dan generasi veteran). Untuk memaksimalkan potensi generasi milenial tersebut perlu memahami karakteristik yang dimiliki. Dengan memahami karakteristik milenials akan memiliki urgensi tersendiri pada masa-masa bonus demografi. lagi jika melihat kondisi Indonesia yang sudah memasuki MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), artinya persaingan tenaga kerja bukan hanya antar warga negara Indonesia saja, melainkan juga dengan warga negara asing, maka mengembangkan kompetensi, meningkatkan produktifitas, dan mengedukasi tenaga kerja lokal menjadi mutlak harus dipenuhi.
Apabila dibandingkan generasi sebelumnya, generasi milenial memiliki karakter unik berdasarkan wilayah dan kondisi sosial-ekonomi. Salah satu ciri utama generasi milenial ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital. Karena dibesarkan oleh kemajuan teknologi, generasi milenial memiliki ciriciri kreatif, informatif, mempunyai passion dan produktif. Dibandingkan generasi sebelumnya, mereka lebih berteman baik dengan teknologi. Bukti nyata yang dapat diamati adalah hampir seluruh individu dalam generasi tersebut memilih menggunakan ponsel pintar. Dengan menggunakan perangkat tersebut para millennials dapat menjadi individu yang lebih produktif dan efisien. Oleh karena itu, mereka mampu menciptakan berbagai peluang baru seiring dengan perkembangan teknologi Generasi ini mempunyai karakteristik komunikasi yang terbuka, pengguna media sosial yang fanatik, kehidupannya sangat terpengaruh dengan perkembangan teknologi, serta lebih terbuka dengan pandangan politik dan ekonomi. Hasil studi yang dilakukan oleh Boston Consulting Group (BCG) bersama University of Berkley tahun 2011 di Amerika Serikat tentang generasi milenial USA adalah sebagai berikut; 1)Menonton sebuah acara televisi kini sudah tidak lagi menjadi sebuah hiburan karena apapun bisa mereka temukan di telepon genggam. 2)Millennial menjadikan keluarga sebagai pusat pertimbangan dan pengambil keputusan mereka, Selanjutnya menurut menurut peneliti (Kupperschmidt, 2000) generasi adalah sekelompok individu yang mengidentifikasi kelompoknya berdasarkan kesamaan tahun kelahiran, umur, lokasi, dan kejadian-kejadian dalam kehidupan kelompok individu tersebut yang memiliki pengaruh signifikan dalam fase pertumbuhan mereka. Generasi milenial memiliki peluang dan kesempatan berinovasi yang sangat luas. Selain itu mereka berhasil memberi dampak ekonomi yang besar bagi tukang ojek yang terlibat di dalamnya.
1. Minat membaca secara konvensional kini sudah menurun karena Generasi Y lebih memilih membaca lewat smartphone mereka
2. Millennial wajib memiliki akun sosial media sebagai alat komunikasi dan pusat informasi
3. Millennial wajib memiliki akun sosial media sebagai alat komunikasi dan pusat informasi
4. Millennial menjadikan keluarga sebagai pusat pertimbangan dan pengambil keputusan mereka
Generasi milenial memiliki peluang dan kesempatan berinovasi yang sangat luas. Dengan inovasi ini, generasi milenial Indonesia berhasil menciptakan sebuah solusi untuk mengatasi kemacetan di kota-kota besar dengan transportasi onlinenya, terutama Selain itu mereka berhasil memberi dampak ekonomi yang besar bagi tukang ojek yang terlibat di dalamnya. Sementara kehadiran bisnis e-commerce karya millennials Indonesia mampu memfasilitasi millennials yang memiliki jiwa wirausaha untuk semakin berkembang. Sementara kehadiran bisnis e-commerce karya millennials Indonesia mampu memfasilitasi millennials yang memiliki jiwa wirausaha untuk semakin berkembang. Berbagai contoh inovasi inilah yang membuktikan bahwa generasi millennials Indonesia mampu mewujudkan kemandirian secara ekonomi. Berbagai contoh inovasi inilah yang membuktikan bahwa generasi millennials Indonesia mampu mewujudkan kemandirian secara ekonomi. Perempuan millenial Indonesia bisa menjadi tombak terdepan untuk mengatasi permasalahan bahwa ketidakadilan gender itu masih ada, di lingkungan kerja maupun tempat lainnya. Bermodal pengalaman dan pendidikan, para millenial khususnya perempuan tentu punya sikap dan jadi pemberi perubahan soal ketimpangan gender.
Dari sisi pendidikan, generasi milenial juga memiliki kualitas yang lebih unggul. Generasi ini juga mempunyai minat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mereka menyadari bahwa pendidikan merupakan prioritas yang utama. Dengan kondisi seperti ini, Indonesia patut optimistis terhadap berbagai potensi yang dimiliki oleh generasi milenial. Menurut Yoris Sebastian dalam bukunya Generasi Langgas Millennials Indonesia, ada beberapa keunggulan dari generasi milenial, yaitu ingin serba cepat, mudah berpindah pekerjaan dalam waktu singkat, kreatif, dinamis, melek teknologi, dekat dengan media sosial, dan sebagainya. Generasi yang biasa disebut dengan generasi millennium atau millennial ini banyak menggunakan teknologi komunikasi yang lebih canggih dan instant dibandingkan zaman generasi X dahulu yaitu e-mail, SMS, chatting melalui aplikasi instant messanging dan lainnya. Hasil penelitian tersebut diperoleh bahwa generasi milenial memiliki Generasi tersebut juga memiliki cara pandang yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Riset tersebut dilakukan dengan cara berhadapan dan mengikuti langsung kegiatan para millenials, serta mewawancarai kelompok-kelompok millennials yang menjadi trendsetter.
Jumlah dan Sebaran Generasi Millenial
Pada tahun 2020, tahun dimulainya bonus demografi, generasi millenial berada pada rentang usia 20 tahun hingga 40 tahun. Usia tersebut adalah usia produktif yang akan menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Tiga tahun menjelang era tersebut terjadi (2017), jumlah generasi milenial sudah dominan dibandingkan generasi lainnya. Menurut Susenas 2017, jumlah generasi milenial mencapai sekitar 88 juta jiwa atau 33,75 persen dari total penduduk Indonesia. Demikian juga dengan jumlah generasi Z baru mencapai sekitar 29,23 persen. Dilihat berdasarkan daerah tempat tinggal, persentase generasi milenial di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di daerah perdesaan. Ada sekitar 55 persen generasi milenial yang tinggal di daerah perkotaan. Jumlah ini mengikuti pola penduduk Indonesia pada umumnya yang mulai bergeser dari masyarakat perdesaan (rural) ke masyarakat perkotaan (urban). Perubahan ini berimplikasi pada perubahan budaya, nilai-nilai sosial, perilaku, dan pola pikir. Konsekuensi dari bergesernya masyarakat pedesaan menjadi masyarakat perkotaan yaitu nilai-nilai tradisional pelan tapi pasti akan semakin terpinggirkan oleh budaya urban. konsumtif, masyarakat yang dulunya berpola pikir konservatif menjadi masyarakat yang lebih terbuka dan modern.
Ciri dan karakter generasi milenial perkotaan juga sudah dipengaruhi pola pikir penduduk perkotaan. ciri utama yang dimilki generasi milenial perkotaan, yaitu confidence; mereka ini adalah orang yang sangat percaya diri, berani mengemukakan pendapat, dan tidak sungkan-sungkan berdebat di depan publik. Ketiga, connected; yaitu pribadi-pribadi yang pandai bersosialisasi terutama dalam komunitas yang mereka ikuti, mereka juga aktif berselancar di media sosial dan internet. Berbeda dengan generasi milenial perkotaan, bersosial media bukan aktivitas eksistensi bagi generasi milenial di perdesaan, hanya sekedar pengisi waktu luang. Hal ini dimaklumi karena generasi milenial perdesaan tidak terlalu terobsesi dengan ponselnya. Dalam menanggapi isuisu yang terdapat di media sosial juga lebih terlihat pasif tidak seantusias generasi milenial perkotaan. Meskipun dipandang bukan lapangan pekerjaan yang menarik, generasi milenial di pedesaan lebih cenderung menyibukkan diri dengan aktivitas ekonomi konvensional yang berbau pertanian.
Jumlah antara generasi milenial laki-laki dan perempuan seimbang sekitar 50 persen dari seluruh jumlah generasi milenial pada tahun 2017. Dalam memahami konsep gender, generasi milenial lebih cair dibandingkan generasi X apalagi baby boomers. Hasil riset yang dilakukan tahun 2013 oleh The Intelligence Group (lembaga pemerhati perilaku konsumen yang berbasis di Los Angeles, Amerika Serikat) menyatakan dua per tiga generasi milenial percaya bahwa kini perkara gender makin buram dan tak berlaku lagi sebagaimana generasi terdahulu memandang serta menerapkannya dalam kehidupan seharihari. Dalam survei itu dituliskan bahwa “daripada mengikuti peran gender secara tradisi, kaum muda menafsirkan makna gender menurut pemahaman pribadi mereka masing-masing.” Ruang kehidupan yang dulunya memiliki garis tegas kini makin netral gender.
Wacana kesetaraan gender di era milenial mengalami pergeseran dan menjadi semakin terbuka. Satu hal yang pasti, kini gender tak lagi dipandang sebagai sesuatu yang berat sebelah. Selain berubah menjadi ekspresi diri yang pantas untuk dihormati, gender bukan lagi dipandang sebagai tembok penghalang bagi seseorang untuk mencapai suatu tujuan dalam hidup, utamanya karier. Jumlahnya berkisar antara 31 persen di Provinsi Jawa Tengah sampai dengan 38 persen di Papua Barat. Meskipun secara persentase generasi milenial terbesar di Provinsi Papua Barat, namun jika diamati jumlah absolut, generasi milenial terpusat di Pulau Jawa. Lebih dari separuh penduduk generasi milenial tinggal di Pulau Jawa, terutama di Provinsi Jawa Barat sebanyak 16,5 juta, Jawa Timur 12,3 juta, dan Jawa Tengah 10,6 juta. Di Provinsi Papua Barat secara absolut hanya 346,6 ribu generasi milenial dan paling sedikit ada Provinsi Kalimantan Utara hanya 240,4 ribu.
Berdasarkan riset Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), 65 persen dari total pengguna internet Indonesia didominasi oleh pengguna di Pulau Jawa. internet terpusat di Pulau Jawa. Ketimpangan digital tersebut boleh jadi disebabkan oleh tidak meratanya ketersedian infrastruktur Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa generasi milenial lahir dan tumbuh besar dalam kuatnya arus perkembangan teknologi. Sikap dan perilaku mereka banyak dipengaruhi oleh gadget dan internet. Mereka cenderung lebih mementingkan penggunaan teknologi, selera musik, dan gaya hidup. Pilihan-pilihan yang mereka ambil lebih banyak didasarkan pada informasi dari internet, terutama media sosial. Maka tidak heran jumlah penduduk milenial juga terpusat di Pulau Jawa.
Status Perkawinan
Bagi sebagian besar pasangan muda milenial yang akan menikah, konsep pernikahan merupakan salah satu hal yang krusial. Mereka lebih pemilih dalam menentukan pasangan hidup dan mementingkan stabilitas finansial sebelum memutuskan untuk lanjut ke jenjang pernikahan. Hal ini berbeda dengan generasi X dan generasi Baby Boom+Veteran yang mungkin tidak terlalu dipusingkan dengan hal tersebut, sebab menikah secara tradisional sering menjadi pilihan bahkan keharusan. Arti pernikahan dan menemukan cinta untuk generasi milenial patut diakui berbeda dengan generasi sebelumnya. Sebagian besar pasangan generasi X dan Generasi Baby Boom+Veteran mungkin bertemu dan menikah karena dijodohkan oleh orang tua mereka dan menikah di usia muda, atau dengan saling berkirim surat bertuliskan tangan. Umumnya, dilema pernikahan generasi ini dialami oleh kaum perempuan, adanya kisah fenomenal “Siti Nurbaya” merupakan bentuk gambaran dari dilema pernikahan pada generasi ini. Sejak abad 17 hingga 21 perjuangan feminis telah melalui pasang surut dan mengalami perluasan wilayah tuntutan dan agenda perjuangan yang jauh lebih rumit bahkan menuntut satu studi khusus.
Berbeda dengan generasi X dan Generasi Baby Boom+Veteran, generasi milenial memaknai pernikahan sebagai apa yang mereka inginkan, tidak ingin terikat batas usia. Sebagian besar lebih mengutamakan kematangan, kemapanan, dan kesiapan dari berbagai faktor dalam menentukan pasangan. Perempuan generasi milenial cenderung lebih bebas dan terbuka menentukan pernikahannya. Menurut data Susenas 2017, lebih dari setengah generasi milenial telah berstatus kawin. Ini berarti, ada 4 orang yang masih melajang dari 10 orang generasi milenial. Rentang usia generasi milenial saat ini merupakan usia produktif dan usia puncak reproduksi, sehingga dari segi pasar tenaga kerja, jumlah penduduk generasi yang besar ini idealnya mampu mendongkrak produktivitas perekonomian. Usia ini dianggap siap untuk menikah karena merupakan usia subur untuk memperoleh keturunan terutama bagi perempuan. Namun, persoalan lainnya tidak hanya sebatas usia matang yang masih menjadi penyebab generasi ini menunda untuk menikah.Pada generasi X, memperlihatkan sekitar 89 persen generasi telah menikah. Hal ini sejalan dengan usia generasi yang menginjak angka 40 tahun ke atas.
Diantara generasi x ada sebesar 2,75 persen yang masih melajang dan sisanya telah bercerai baik cerai hidup maupun mati. Generasi milenial yang telah menikah tenyata sebagian besar adalah perempuan, ada sebanyak 63,97 persen pada tahun 2017. penduduk wanita yang menikah ini berkaitan dengan faktor reproduksi, dimana masa reproduksi perempuan dianggap subur rentang usia 15-49 tahun. Disamping itu menurut , rata-rata umur perkawinan pertama perempuan milenial lebih muda (20 atau 21 tahun) dibanding generasi milenial lakilaki (23 atau 24 tahun). Sedangkan generasi milenial di perkotaan yang menikah sebesar 50,40 persen. Pola yang sama juga terjadi pada generasi milenial menikah laki- laki maupun perempuan di daerah perdesaan maupun di perkotaan. Tingginya angka pernikahan generasi milenial di perdesaan juga didukung oleh rata-rata umur perkawinan pertamanya. Lebih dininya usia pernikahan pertama di perdesaan tidak lepas dari faktor sosial ekonomi, seperti karena kemiskinan, adat tradisi budaya, atau pendidikan yang rendah. Dilihat dari persebaran generasi milenial di seluruh provinsi di Indonesia, yang berstatus menikah terbanyak ada di provinsi Kalimantan Tengah dan terkecil di Provinsi Aceh, dengan persentase60,00 persen dan 47,22 persen.Tingginya angka pernikahan generasi milenial di Kalimantan Tengah disebabkan oleh pernikahan di usia dini yang masih Selain itu, Kalimantan Tengah menurut BKKBN merupakan salah satu provinsi dengan pernikahan dini dan kehamilan remaja tertinggi di Indonesia. Lain halnya di Provinsi Aceh, disamping rata-rata umur perkawinan pertamanya lebih tua, adanya hukum syariah atau hukuman berbasis islam membuat permasalahan berkaitan pergaulan bebas yang menjadi salah satu faktor pemicu pernikahan dini minim terjadi. Selanjutnya dilihat dari rata-rata umur menurut perkawinan pertama lebih dari separuh generasi milenial yang telah menikah mungkin sebagian menikah di usia ideal yakni di atas 17 tahun, tetapi sebagian lainnya mungkin menikah di usia lebih muda dari itu atau sering disebut pernikahan anak.
Capaian Pendidikan
Pendidikan masa kini berbeda dengan era generasi X atau Generasi Baby Boom+Veteran, teknologi yang semakin pesat mempermudah masyarakat dalam melakukan aktivitas. Kemudahan akses informasi yang ditopang internet dan media sosial ibarat dua sisi mata uang bagi generasi ini.Apabila era generasi X dan Baby Boomers+Veteran masih banyak menggunakan cara konvensional seperti membaca melalui koran atau buku dan menonton televisi, generasi milenial lebih banyak menggunakan smartphone. Perubahan kondisi pendidikan dalam dua dekade terlihat dari indikator angka melek huruf menurut kelompok generasi. Pada tahun 2017, angka melek huruf penduduk generasi milenial ditelaah lebih jauh dari sisi gender, angka melek huruf generasi milenial antara laki-laki dan perempuan tidak terlalu jauh atau dapat dikatakan sudah sama dengan angka mendekati 100 persen. Perempuan pada generasi X dan Generasi Baby Boom+Veteran memiliki angka melek huruf lebih rendah. Adanya perubahan angka melek huruf dari generasi ke generasi menujukkan bahwa telah ada perbaikan kualitas pendidikan dan persamaan gender di Indonesia.
Kemudian jika dilihat dari sisi daerah tempat tinggal, angka melek huruf generasi di daerah perkotaan sudah mendekati 100 Hal yang sama juga terjadi pada generasi X dan Generasi Baby Boom+Veteran, terdapat perbedaan yang signifikan antara pendidikan di perkotaan dan perdesaan, huruf dari generasi ke generasi, persoalan ketimpangan pendidikan antara perkotaan dan perdesaan masih terjadi, menunjukkan angka melek huruf penduduk generasi milenial di Provinsi Papua baru mencapai sekitar 79 persen,Selisih jauh dari penduduk di provinsi lain Indonesia. Terlihat dari rata-rata mengenyam bangku sekolah antara laki-laki dan perempuan yang sama selama 10 tahun. Sedangkan untuk generasi X dan generasi Baby Boom+Veteran ada selisih satu tahun, laki-laki lebih lama mengenyam pendidikan dibandingkan perempuan. Sedangkan rata-rata lama sekolah generasi milenial tercepat ditempati Provinsi Papua yang hanya sekitar 7 tahun atau kelas 1 SMP/Sederajat. Selain itu, data juga menunjukkan generasi milenial memiliki pendidikan yang lebih tinggi dari generasi sebelumnya, ini sejalan dengan angka melek huruf yang hampir 100 persen Sementara untuk generasi Baby Boom+Veteran, meski banyak yang menamatkan pendidikan SD/Sederajat, penduduk yang tidak/belum tamat SD juga tinggi dengan persentase 30,91.
Lalu, untuk level Perguruan Tinggi juga memperlihatkan hal yang sama, generasi milenial yang menamatkan perguruan tinggi di perkotaan ada sebanyak 13,19 persen lebih tinggi daripada perdesaan yang sebesar 5,63 persen perbedaan antar wilayah ini tidak lepas dari masih terjadinya ketimpangan kualitas pendidikan dan jauhnya jarak ke prasarana pendidikan. Di sisi kesetaraan gender, generasi milenial yang menamatkan pendidikan tingkat perguruan tinggi menurut perempuan generasi milenial ternyata lebih banyak yang menamatkan perguruan tinggi dibandingkan laki-laki ini mengindikasikan telah ada peningkatan dalam kesempatan perempuan untuk menempuh pendidikan tinggi. Lalu, untuk level Perguruan Tinggi juga memperlihatkan hal yang sama, generasi milenial yang menamatkan perguruan tinggi di perkotaan ada sebanyak 13,19 persen lebih tinggi daripada perdesaan yang sebesar 5,63 persen perbedaan antar wilayah ini tidak lepas dari masih terjadinya ketimpangan kualitas pendidikan dan jauhnya jarak ke prasarana pendidikan di sisi kesetaraan gender, generasi milenial yang menamatkan pendidikan tingkat perguruan tinggi menurut perempuan generasi milenial ternyata lebih banyak yang menamatkan perguruan tinggi dibandingkan laki-laki Ini mengindikasikan telah ada peningkatan dalam kesempatan perempuan untuk menempuh pendidikan tinggi. Generasi milenial yang menamatkan pendidikan setingkat diploma/universitas terendah adalah Provinsi Papua, yaitu 4,88 persen sama seperti kondisi pendidikan perkotaan dan perdesaan, kondisi menurut provinsi juga menampilkan capaian yang berbeda, dapat dikatakan ada kesenjangan antar provinsi dalam hal kualitas dan akses pendidikan kerja yang dapat dimanfaatkan untuk membangun Indonesia.
Karakteristik Generasi Millenial
Karakter memberikan gambaran tentang suatu bangsa, sebagai penanda, penciri sekaligus pembeda suatu bangsa dengan bangsa lainnya. Karakter memberikan arahan tentang bagaimana bangsa itu menapaki dan melewati suatu zaman dan mengantarkannya pada suatu derajat tertentu. yag besar adalah bangsa yang memiliki karakter yang mampu Karakter mempunyai peran penting dalam diri manusia, semakin berkembangnya zaman maka karakter manusia juga Karakter generasi milenial seharusnya punya daya saing tinggi tetapi tidak mengesampingkan etika dan Karena itu sejalan dengan tujuan karakter dalam Islam, keduanya mempunyai tujuan inti yang baik dari segi rohani dan jasmani, maupun intelektual dan spiritual yaitu tidak hanya mengedepankan nilai-nilai intelektual semata tetapi juga nilainilai moral yang berperan penting dalam kehidupan, karena tujuan hidup manusia dan perannya sebagai makhluk Allah memanfaatkan iptek dan juga di sisi lain tetap menjaga akhlak dan karakternya selaku muslim, karena manusia mempunyai Kehadiran teknologi pada manusia modern yang penyalah gunaan iptek dan pendangkalan iman, mengatasi hal tersebut diperlukan pembentukan karakter pada generasi millenial.
PENUTUP
KESIMPULAN
Generasi milenial Indonesia, yang lahir antara tahun 1980 hingga 2000, memiliki kontribusi signifikan terhadap struktur jumlah penduduk usia produktif. Dengan jumlah sekitar 33,75% dari total penduduk pada tahun 2017, generasi ini memiliki potensi besar untuk memajukan pembangunan Indonesia. Berbagai definisi dan penamaan untuk generasi milenial ditemukan dalam literatur, namun umumnya mereka adalah individu yang lahir dalam rentang tahun 1980 hingga 2000. Perkembangan teknologi dan kemajuan digital mempengaruhi karakteristik unik generasi ini, seperti kreativitas, kecakapan teknologi, dan keterbukaan terhadap perubahan.
Generasi milenial Indonesia memiliki peran penting dalam menyongsong bonus demografi, diharapkan dapat menjadi pendorong ekonomi dan inovasi. Pendidikan merupakan aspek penting, dan data menunjukkan peningkatan melek huruf generasi ini, terutama di daerah perkotaan.Pernikahan di kalangan milenial lebih dipengaruhi oleh faktor kematangan dan stabilitas finansial, berbeda dengan generasi sebelumnya yang mungkin lebih mengikuti tradisi. Meskipun banyak yang sudah menikah, ada juga yang masih melajang, menunjukkan variasi dalam pandangan terhadap pernikahan.
Dalam hal inovasi dan ekonomi, generasi milenial Indonesia telah menciptakan solusi baru, seperti layanan transportasi online, bisnis e-commerce, dan kontribusi positif terhadap ekonomi. Meskipun masih terdapat ketimpangan dalam pendidikan antara perkotaan dan perdesaan, serta antarprovinsi, generasi milenial menunjukkan kemajuan signifikan dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Kesetaraan gender juga semakin diperhatikan, terutama dalam akses pendidikan. Generasi milenial Indonesia memiliki peran sentral dalam menghadapi bonus demografi, dan pemahaman mendalam terhadap karakteristik dan potensinya penting untuk merancang kebijakan yang mendukung perkembangan positif generasi ini.
Komentar
Posting Komentar